(Bagian II)
Oleh : M.Najib Aulia
Zaman, S.Th.I
Akhirnya kesempatan untuk melanjutkan tulisan kedua bisa
terpenuhi, meski tulisan ini mungkin tidak jauh beda dari sebelumnya, kurang
sistematis dan masih mengenai tema politik. Tulisan ini bagian dari eksplorasi
bacaan tentang perpolitikan di Negara yang menganut sistem demokrasi ini. Ada
sebuah anekdot yang cukup eksploitatif menggambarkan dinamika politik di Negara
kita.
Seorang bocah bertanya kepada ayahnya, “Ayah, dapatkah Ayah jelaskan
apa itu politik?” Ayah: “Nak, Ayah akan jelaskan agar kamu mudah mengerti. Ayah
adalah pencari nafkah bagi keluarga. Ayah bisa disebut kapitalisme. Ibu adalah
pengatur keuangan. Ibumu bisa kamu sebut pemerintah. Ayah dan Ibu memenuhi
kebutuhanmu, kamu adalah rakyat. Bibi, pembantu kita, dinamakan buruh. Adikmu
yang masih bayi, kita sebut masa depan.
Setelah selesai berbicara dengan ayahnya, ayah itu
masuk kamarnya untuk tidur. Tengah malam ia mendengar adiknya menangis. Ia
bangun dan memeriksa. Adiknya masih basah kuyup dan kotor karena ompol dan
buang air besar. Anak itu pergi ke kamar orang tuanya. Ia melihat ibunya sedang
tidur pulas. Kamar pembantu terkunci. Ia mengintip dari lubang kunci. Ia kaget
melihat ayahnya tidur bersama pembantu. Ia sangat marah, tetapi langsung
kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, anak itu berkata kepada Ayahnya.
“Kurasa sekarang aku mengerti apa itu politik”
“Bagus Nak, ceritakan kepadaku apa pendapatmu tentang politik?”
“Saat kapitalisme memanfaatkan buruh, pemerintah tertidur, rakyat
hanya bisa menonton dan bingung mendapati masa depan berada dalam kesulitan
besar”.
Hee,,sungguh anekdot yang cukup menarik yang saya
baca dari sebuah buku karya J.Sumardiyanta (Tidak perlu saya sebutkan judulnya,
karena sama sekali bukan buku politik).
Realitas seperti itu memang benar terjadi di negeri ini. Hanya
persoalanya bagaimana kita sebagai rakyat harus bisa bertindak untuk
menyelamatkan masa depan bangsa ini sehingga tidak dimanfaatkan oleh kelompok
kapitalis yang bisa dengan seenaknya mengatur Negara. Mencuatnya kasus “Papa
Minta Saham” yang kemarin sempat ramai
dibincangkan menjadi bukti adanya keterlibatan kaum kapitalis. Pengusaha besar berinisial
RC seorang raja minyak dengan kekuatan kapitalnya bisa turut mengatur kebijakan
pemerintah. Bahkan dalam salah satu rekaman pembicaraanya disebutkan mampu
menggulingkan presiden sekalipun.
Pemerintah tertidur ketika proyek hambalang menjadi
bancakan para pengusaha yang memanfaatkan kedudukan politisnya, sebagaimana
dilakukan mantan bendum partai Demokrat M.Nazarudin. Melalui perusahaan
miliknya PT Permai Group menerima gratifikasi dari proyek sarana olahraga itu.
Kita sebagai rakyat hanya bisa menonton dan masa depan Hambalang pun sampai
saat ini tidak jelas mau diapakan.
Begitulah ketika politik hanya dimaknai sebagai arena
pertarungan perebutan kekuasaan saja, maka pengusaha pun turut ambil bagian
guna menyelamatkan kepentingan bisnisnya atau mencari cari proyek yang bisa mendukung
usahanya meski harus mengorbankan rakyat jelata.
Maka tidak heran jika akhirnya rakyat menganggap
politik itu adalah kotor sebagaimana saya singgung pada tulisan sebelumnya . Kapitalisme
menjadikan politik bermental transaksional, who
get what, when and how? Siapa dapat apa, kapan dan bagaimana? Sehinggg yang
terjadi adalah politik hanya untuk golongan orang kaya/pemodal.
Di tengah ketidak percayaan masyarakat terhadap dinamika
politik yang ada saat ini, PKB dengan mengusung konsep politik Rahamatan lil ‘alamiin seakan menemukan
relevansinya bagi keberlangsungan tata kelola Negara yang lebih beradab. Karena dalam salah satu poin Mabda’ Siyasi PKB adalah Kekuasaan untuk
kesejahteraan yang termanifestasikan dalam bentuk politik pelayanan,
keteladanan, kehadiran dan kepeloporan.Semoga
PKB dengan jargon membela rakyat bisa menjawab kegelisahan dan apatisme
masyarakat terhadap politik saat ini.