Selasa, 19 April 2016

AKTUALISASI GERAKAN POLITIK RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN

(Bagian II)
Oleh : M.Najib Aulia Zaman, S.Th.I

Akhirnya kesempatan untuk melanjutkan tulisan kedua bisa terpenuhi, meski tulisan ini mungkin tidak jauh beda dari sebelumnya, kurang sistematis dan masih mengenai tema politik. Tulisan ini bagian dari eksplorasi bacaan tentang perpolitikan di Negara yang menganut sistem demokrasi ini. Ada sebuah anekdot yang cukup eksploitatif menggambarkan dinamika politik di Negara kita.
Seorang bocah bertanya kepada ayahnya, “Ayah, dapatkah Ayah jelaskan apa itu politik?” Ayah: “Nak, Ayah akan jelaskan agar kamu mudah mengerti. Ayah adalah pencari nafkah bagi keluarga. Ayah bisa disebut kapitalisme. Ibu adalah pengatur keuangan. Ibumu bisa kamu sebut pemerintah. Ayah dan Ibu memenuhi kebutuhanmu, kamu adalah rakyat. Bibi, pembantu kita, dinamakan buruh. Adikmu yang masih bayi, kita sebut masa depan.
Setelah selesai berbicara dengan ayahnya, ayah itu masuk kamarnya untuk tidur. Tengah malam ia mendengar adiknya menangis. Ia bangun dan memeriksa. Adiknya masih basah kuyup dan kotor karena ompol dan buang air besar. Anak itu pergi ke kamar orang tuanya. Ia melihat ibunya sedang tidur pulas. Kamar pembantu terkunci. Ia mengintip dari lubang kunci. Ia kaget melihat ayahnya tidur bersama pembantu. Ia sangat marah, tetapi langsung kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, anak itu berkata kepada Ayahnya.
“Kurasa sekarang aku mengerti apa itu politik”
“Bagus Nak, ceritakan kepadaku apa pendapatmu tentang politik?”
“Saat kapitalisme memanfaatkan buruh, pemerintah tertidur, rakyat hanya bisa menonton dan bingung mendapati masa depan berada dalam kesulitan besar”.
Hee,,sungguh anekdot yang cukup menarik yang saya baca dari sebuah buku karya J.Sumardiyanta (Tidak perlu saya sebutkan judulnya, karena sama sekali bukan buku politik).  Realitas seperti itu memang benar terjadi di negeri ini. Hanya persoalanya bagaimana kita sebagai rakyat harus bisa bertindak untuk menyelamatkan masa depan bangsa ini sehingga tidak dimanfaatkan oleh kelompok kapitalis yang bisa dengan seenaknya mengatur Negara. Mencuatnya kasus “Papa Minta Saham” yang  kemarin sempat ramai dibincangkan menjadi bukti adanya keterlibatan kaum kapitalis. Pengusaha besar berinisial RC seorang raja minyak dengan kekuatan kapitalnya bisa turut mengatur kebijakan pemerintah. Bahkan dalam salah satu rekaman pembicaraanya disebutkan mampu menggulingkan presiden sekalipun.
Pemerintah tertidur ketika proyek hambalang menjadi bancakan para pengusaha yang memanfaatkan kedudukan politisnya, sebagaimana dilakukan mantan bendum partai Demokrat M.Nazarudin. Melalui perusahaan miliknya PT Permai Group menerima gratifikasi dari proyek sarana olahraga itu. Kita sebagai rakyat hanya bisa menonton dan masa depan Hambalang pun sampai saat ini tidak jelas mau diapakan.
Begitulah ketika politik hanya dimaknai sebagai arena pertarungan perebutan kekuasaan saja, maka pengusaha pun turut ambil bagian guna menyelamatkan kepentingan bisnisnya atau mencari cari proyek yang bisa mendukung usahanya meski harus mengorbankan rakyat jelata.
Maka tidak heran jika akhirnya rakyat menganggap politik itu adalah kotor sebagaimana saya singgung pada tulisan sebelumnya . Kapitalisme menjadikan politik bermental transaksional, who get what, when and how? Siapa dapat apa, kapan dan bagaimana? Sehinggg yang terjadi adalah politik hanya untuk golongan orang kaya/pemodal.

Di tengah ketidak percayaan masyarakat terhadap dinamika politik yang ada saat ini, PKB dengan mengusung konsep politik Rahamatan lil ‘alamiin seakan menemukan relevansinya bagi keberlangsungan tata kelola Negara yang lebih beradab.   Karena dalam salah satu poin Mabda’ Siyasi PKB adalah Kekuasaan untuk kesejahteraan yang termanifestasikan dalam bentuk politik pelayanan, keteladanan, kehadiran dan kepeloporan.Semoga PKB dengan jargon membela rakyat bisa menjawab kegelisahan dan apatisme masyarakat terhadap politik saat ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar